Para Roh kulit Gurun

Oleh Stephen S. Hall

Gambar-gambar Nasca yang kuno dan raksasa di Peru telah membuka rahasianya. Dari udara, garis-garis yang tergores di gurun terlihat samar, laksana gambar yang terlalu lama di bawah terik surya.

Aku hanya bisa melihat dengan lamat-lamat sejumlah bentuk yang diukir dengan indahnya saat pilot kami membelokkan pesawat ke kanan dengan tajam di atas plato gurun Peru selatan, di utara kota kecil Nasca. “Orca!” seru Johny Isla, arkeolog Peru yang mencoba mengalahkan deru mesin. Dia menunjuk gambar seekor paus pembunuh di bawah. “Mono!” ujarnya beberapa saat kemudian ketika gambar monyet Nasca masuk dalam jangkauan pandangan kami. “Kolibri!”

Sejak dikenal luas pada akhir 1920-an, berkenaan dengan beroperasinya rute penerbangan antara Lima dan Arequipa, kota di wilayah selatan Peru, gambar-gambar raksasa nan misterius di gurun yang dinamakan gambar Nasca itu menjadi teka-teki bagi para arkeolog, antropolog, dan siapa pun yang terpesona oleh kebudayaan kuno benua Amerika. Sejak saat itu jugalah gelombang para ilmuwan dan pengamat amatir mengajukan beragam penafsiran atas gambar-gambar tersebut, seolah garis-garis takikan itu adalah noda tinta Rorschach terbesar di dunia. Ada kalanya kurva-kurva kolosal tersebut diduga sebagai jalanan yang dibangun di zaman suku Inca, sistem irigasi, gambar yang dibuat untuk dinikmati dari balon udara era primitif, atau yang paling kocak, dianggap sebagai garis pemandu untuk pendaratan pesawat makhluk angkasa luar.

Pasca Perang Dunia II, seorang guru kelahiran Jerman Maria Reiche melakukan survei resmi yang pertama atas sejumlah gambar dan bentuk – yang disebut geoglyph di luar Nasca dan di dekat kota kecil Palpa tersebut. Selama setengah abad hingga ajal menjemput pada 1998, Reiche memainkan peran yang penting dalam melestarikan geoglyph. Namun teorinya sendiri bahwa berbagai gambar itu merupakan perlambang kalender astronomi juga dimentahkan banyak pihak. Kegigihan Reiche dalam melindungi gambar-gambar itu dari orang luar diteladani oleh para penerusnya di zaman sekarang sehingga para ilmuwan pun dibuat kesulitan dalam memeroleh akses ke sejumlah bentuk binatang yang paling terkenal di dataran pampa yang ada di barat laut Nasca itu.

Namun sejak 1997, sebuah aktivitas penelitian gabungan Peru-Jerman berlangsung di dekat kota kecil Palpa yang terletak lebih jauh di utara lokasi gambar-gambar Nasca. Proyek Nasca-Palpa yang dipimpin Isla dan Markus Reindel dari Institut Arkeologi Jerman itu melakukan kajian multidisiplin ilmu yang sistematis mengenai masyarakat kuno di wilayah itu. Kajian dimulai dengan, di mana kediaman dan bagaimana cara hidup suku Nasca, mengapa mereka menghilang, dan apa arti dari desain aneh yang mereka tinggalkan di gurun pasir tersebut.

Saat pesawat kami kembali membelok, Isla yang asli penduduk dataran tinggi tersebut dan bekerja di Institut Studi Arkeologi Andes terus menempelkan wajah lebarnya yang berhias tulang pipi nan tinggi ke kaca jendela. “Trapesium!” teriak Isla sambil menunjuk sebuah lahan geometris besar yang mulai terlihat. “Altar!” tambahnya seraya menunjuk. “Altar!”

Altar? Isla menunjuk setumpuk batu di satu sudut trapesium. Jika Isla dan rekan-rekannya benar, struktur yang tidak begitu besar itu mungkin bisa menjadi kunci dalam memahami tujuan yang sejati dari pembuatan gambar Nasca. Cerita tersebut dimulai dan berakhir dengan, air.

Wilayah pesisir Peru selatan dan Cile utara merupakan salah satu tempat paling kering di Bumi. Dalam sebuah lembah kecil terisolasi yang jadi lokasi munculnya kebudayaan Nasca, 10 sungai mengalir dari Pegunungan Andes ke arah timur, tetapi selama beberapa bulan dalam setahun, sebagian besar dari sungai-sungai itu dalam kondisi kerontang. Kesepuluh alur menghijau nan rapuh yang dikelilingi oleh seribu nuansa cokelat itu menawarkan areal yang subur bagi munculnya sebuah peradaban awal seperti yang terjadi di delta sungai Nil atau sungai-sungai di Mesopotamia. “Ini adalah tempat yang sempurna bagi permukiman manusia karena air tersedia,” ujar ahli geografi Bernhard Eitel yang menjadi anggota Nasca-Palpa Project. “Tapi lokasi tersebut merupakan lingkungan yang risikonya sangat tinggi.”

Menurut Eitel dan rekannya dari University of Heidelberg, Bertil Mächtle, iklim mikro di wilayah Nasca telah berubah dramatis selama 5.000 tahun terakhir. Ketika sebuah sistem cuaca bertekanan tinggi di dataran tinggi Bolivia yang ada di pusat Amerika Selatan bergerak ke utara, hujan semakin banyak tercurah di lereng barat Pegunungan Andes. Ketika cuaca tersebut bergerak ke selatan, curah hujan pun berkurang dan sungai-sungai di berbagai lembah Nasca mengering.

Meski dalam kondisi penuh risiko seperti itu, suku Nasca berkembang selama delapan abad. Sekitar 200 SM, masyarakat Nasca menyeruak dari budaya sebelumnya yang dikenal sebagai Paracas. Masyarakat Nasca menghuni daerah sepanjang lembah-lembah sungai dan membudidayakan tanaman seperti kapas, kacang-kacangan, umbi-umbian, lucuma (buah, Pauteria lucuma), dan jagung. Masyarakat nasca yang terkenal akan tembikar khasnya menciptakan teknik baru dalam mencampur sekitar selusin pigmen mineral yang berbeda dalam sebuah mangkok tanah liat tipis sehingga zat warna itu dapat melekat di gerabah saat dipanggang. Sebuah tablo keramik terkenal yang dinamakan piring porselen Tello menampilkan beberapa orang suku Nasca berjalan sambil meniup seruling bambunya, dikelilingi sejumlah anjing yang menari-nari dipandang sebagai gambaran ikonis masyarakat yang tenteram dengan berbagai ritualnya yang meliputi musik, tarian, dan perjalanan suci.

Ibu kota teokratis pada era Nasca awal adalah Cachuaci, kota suci di tengah gurun pasir. Tempat yang pertama kali digali pada 1950 oleh arkeolog dari Columbia University William Duncan Strong itu merupakan sebuah kompleks luas berukuran 150 hektar yang meliputi sebuah piramida tanah liat yang mengesankan, beberapa kuil besar, sejumlah plasa dan altar yang luas, serta jaringan tangga dan koridor yang sangat rumit. Dalam buku mereka pada 2003 tentang sistem irigasi Nasca, arkeolog Katharina Schreiber dari University of California, Santa Barbara, dan Josué Lancho Rojas, sejarawan yang juga kepala sekolah lokal, menegaskan bahwa Sungai Nasca yang mengalir di bawah tanah sepanjang 15 kilometer ke timur menyeruak kembali seperti mata air di ambang kota Cahuachi. “Kemunculan air pada titik ini,” tulis mereka, “sudah hampir pasti dianggap sebagai sesuatu yang suci pada zaman prasejarah.”

“Cahuachi adalah sebuah pusat seremonial,” kata Giuseppe Orefici, arkeolog Italia yang telah memimpin penggalian selama bertahun-tahun. “Orang-orang datang ke tempat ini dari pegunungan dan pantai, membawa persembahan.” Di antara artefak yang ditemukan di situs Cahuachi terdapat lusinan penggalan kepala, biasanya dengan jalinan tali yang diikat melalui sebuah lubang yang dibor di dahi, sepertinya agar tengkorak tersebut bisa dipasang di sekitar pinggang.

Di tempat lain dalam dunia Nasca, orang-orang bergerak ke timur atau ke barat di sepanjang lembah-lembah sungai saat pola curah hujan bergeser. Para arkeolog Peru-Jerman telah mengeksplorasi daerah itu dari pantai Pasifik sampai ketinggian hampir 4.600 meter di dataran tinggi Andes. Hampir di setiap tempat yang didatangi, mereka sepertinya menemukan bukti keberadan desa-desa Nasca “seperti mutiara di tepi-tepi lembah,” kata Reindel. “Dan di dekat setiap hunian kami menemukan geoglyph.”

Padang pasir dan perbukitan yang kering adalah kanvas yang menggoda: hanya dengan mengangkat lapisan batu gelap yang berserakan di tanah dan memperlihatkan pasir yang berwarna lebih cerah di bawahnya, suku Nasca menciptakan tanda-tanda yang telah bertahan berabad-abad dalam iklim kering. Para arkeolog yakin, konstruksi dan pemeliharaan gambar ini dilakukan secara komunal “seperti membangun sebuah katedral,” ujar Reindel.

Di lembah-lembah selatan yang teramat kering, para insinyur Nasca kuno mungkin telah merancang cara yang lebih praktis untuk mengatasi kelangkaan air. Sebuah sistem sumur horisontal yang dirancang dengan cerdik menampung arus air yang menuruni kaki bukit Andes, membuat para pemukim dapat mengangkat air bawah tanah ke permukaan. Sistem irigasi semacam ini yang dikenal sebagai puquios masih terus mengairi lembah-lembah selatan.

Mungkin akibat kesulitan yang mereka hadapi, suku Nasca tampaknya sangat sadar lingkungan. Penciptaan puquios menunjukkan kemampuan konservasi air yang sangat canggih mengingat saluran air bawah tanah meminimalkan penguapan. Para petani Nasca menanam benih dengan membuat satu lubang di tanah, bukan dengan cara membajak, sehingga mampu menjaga substruktur tanah. Selama kunjungan ke La Muna, sebuah situs Nasca, Isla menunjukkan lapisan-lapisan vegetatif pada dinding sejumlah bangunan dan teras yang menghiasi permukiman di lereng bukit berbatu itu. Suku Nasca, katanya, telah mendaur ulang sampah mereka sebagai bahan bangunan. “Mereka adalah masyarakat yang mengelola sumber daya dengan sangat baik,” kata Isla. “Ini adalah cerminan suku Nasca yang sesungguhnya.”

Sekarang ini, kebanyakan orang mengenal Nasca hanya karena gambarnya. Namun, walau Nasca adalah pembuat
geoglyph yang paling produktif, mereka bukanlah yang pertama. Pada bukit yang berbatasan dengan sebuah dataran tinggi di selatan Palpa, terhampar tiga geoglyph berbentuk manusia dengan mata yang besar dan rambut yang aneh, dibuat setidaknya 2.400 tahun silam lebih awal dibandingkan tanggal munculnya peradaban Nasca di hampir semua buku teks. Kelompok Reindel telah menemukan tak kurang dari 75 kelompok geoglyph di daerah Palpa yang diketahui berasal dari kebudayaan Paracas kuno. Geoglyph Paracas tersebut yang sering menggambarkan sosok manusia punya motif visual yang berbeda dari gambar yang diukir di bebatuan (petroglyph). Selama survei kecil baru-baru ini di sebuah situs yang diduga berasal dari zaman Paracas di Lembah Sungai Palpa, Isla menemukan sebuah petroglyph monyet sebuah inkarnasi mengejutkan dari geoglyph Nasca terkenal yang telah ditunjukkan oleh Isla pada pampa di bawah pesawat kami.

Sejumlah penemuan baru tersebut punya penjelasan penting perihal gambar Nasca: gambar-gambar itu tidak dibuat pada satu waktu, tidak di satu tempat, tidak untuk satu tujuan. Banyak gambar yang diukir menimpa gambar yang lebih tua dengan pengurangan dan penambahan yang menambah kerumitan penafsirannya; sekali waktu, arkeolog Helaine Silverman pernah menyamakan gambar-gambar itu dengan coretan di papan tulis pada jam terakhir di hari yang sibuk di sekolah. Pemahaman populer bahwa gambar-gambar tersebut hanya dapat dilihat dari udara merupakan mitos modern.

Geoglyph dari zaman Paracas kuno diletakkan di sisi bukit sehingga bisa dilihat dari pampa. Pada zaman Nasca kuno berbagai gambar itu yang tidak begitu antropomorfik dan lebih naturalistic telah berpindah dari lereng bukit ke lantai pampa. Hampir semua sosok binatang ikonis, seperti laba-laba dan burung kolibri, digambar hanya dengan menggunakan sebuah garis; seseorang bisa melangkah ke dalamnya dari sebuah titik awal dan keluar di titik lainnya tanpa pernah memotong garis yang lain, menunjukkan kepada para arkeolog bahwa pada suatu saat di zaman Nasca kuno, gambar itu berevolusi dari sekedar gambar menjadi jalur prosesi upacara. Kemudian, mungkin karena ledakan pertumbuhan penduduk yang telah didokumentasikan oleh tim Jerman-Peru, semakin banyak orang berpartisipasi dalam berbagai ritual tersebut, dan geoglyph itu pun mengambil pola-pola geometris yang lebih terbuka dengan beberapa trapezium dengan ukurannya mencapai lebih dari 600 meter. “Menurut kami,” ujar Reindel, “gambar-gambar ini tidak lagi dimaksudkan hanya untuk dilihat, tetapi menjadi sejumlah tahapan yang akan dilalui, digunakan pada sejumlah upacara keagamaan.”

Berbagai tata cara peribadahan kuno itu telah meninggalkan jejak dalam tanah itu sendiri. Antara 2003 dan 2007, Tomasz Gorka dan Jorg Fassbinder, ahli Geofisika Departemen Monumen dan Situs Negara Bagian Bavaria Jerman, mengukur medan magnet bumi pada trapesium dekat Yunama, sebuah desa di luar Palpa, dan pada gambar yang lain di dekatnya. Gangguan sinyal magnetik yang halus menunjukkan bahwa tanah tersebut, terutama di sekitar altar, telah dipadatkan oleh aktivitas manusia. Pada saat yang bersamaan, Karsten Lambers, anggota lain dari Proyek Nasca-Palpa, mengumpulkan data posisi dan pengukuran yang akurat dari sejumlah gambar dari ratusan geoglyph. Data menunjukkan bahwa trapesium dan bentuk geometrik lainnya dibangun pada sebuah lokasi di mana bentuk-bentuk itu akan terlihat dari sejumlah tempat lainnya. Tim menyimpulkan, lokasi itu adalah tempat di mana “kelompok-kelompok sosial melakukan sesuatu dan saling berinteraksi, sementara penonton di lembah-lembah dan di situs geoglyph lainnya bisa melihat dan mengamati.”

Cerro Blanco yang merupakan salah satu bukit pasir tertinggi di dunia menjulang pucat dan tampak menonjol di tengah-tengah mangkok kaki perbukitan di Pegunungan Andres yang damai, mendominasi penorama ragawi dan rohani sejumlah lembah Nasca selatan. Selama berabad-abad lamanya masyarakat di Pegunungan Andes menyembah dewa-dewa yang bersemayam di dalam pegunungan seperti Cerro Blanco. Menurut Johan Reinhard, seorang National Geographic explorer in residence, secara tradisional pegunungan itu telah dihubungkan secara mitos, jika tidak geologis dengan sumber-sumber air. Barang pecah belah suku Nasca yang mengotori jalan menuju puncak Cerro Blanco menunjukkan adanya hubungan yang cukup dalam hingga ke masa lalu.

Pada 1986 Reinhard melaporkan penemuan reruntuhan sebuah lingkaran batu upacara di puncak Illakata. Pada ketinggian lebih dari 4.200 meter, gunung tersebut merupakan salah satu pegunungan tertinggi yang menjadi sumber sistem irigasi Nasca. Bersama dengan jejak-jejak lain aktivitas ritual di puncak sumber air Nasca, penemuan itu membuat Reinhard mengajukan pendapat bahwa salah satu tujuan utama pembuatan gambar-gambar Nasca berkaitan dengan penyembahan dewa-dewa gunung, termasuk Cerro Blanco. Pasalnya, dewa-dewa itu memiliki hubungan dengan air.

Riset terbaru memperkuat hipotesa tersebut. Pada sejumlah dataran tinggi yang letaknya lebih jauh ke utara, di mana binatang vicuña liar berkeliaran di dekat hulu Sungai Palpa, saya bergabung dengan Reindel dan timnya untuk mencapai puncak gunung suci yang disebut masyarakat lokal sebagai Apu Llamoca (dalam bahasa asli, apu adalah kata untuk “dewa”). Di puncak gigir gunung berapi yang gelap ini, Reindel menunjukkan sebuah lingkaran penyembahan dengan tembikar keramik yang ditemukan tim pada 2008 dan di dekatnya ada sebuah struktur setengah lingkaran yang hampir sama dengan lingkaran yang telah ditemukan Reinhard di Illakata.

Namun bagi para peneliti Proyek Nasca-Palpa, pencerahan sesungguhnya yang menghubungkan ritual suci suku Nasca dengan penyembahan air terkuak tahun 2000 pada trapesium yang mendominasi dataran tinggi terpencil di dekat desa Yunama. Para arkeolog sudah sering melihat gundukan batu besar buatan manusia di ujung trapezium seperti itu, yang mereka duga sebagai altar upacara. Saat Reindel menggali salah satu gundukan tersebut dan menemukan tembikar yang sudah hancur, tempurung udang karang, sisa-sisa sayuran, dan relik lainnya yang jelas mewakili ritual persembahan, dia menemukan sejumlah potongan kerang laut besar dari genus Spondylus. Kerang itu bisa dibedakan berdasarkan coraknya yang berwarna krem mirip karang dan permukaan luarnya yang tajam. Spondylus muncul di perairan pantai utara Peru hanya pada saat musim El Niño dan oleh karenanya dihubungkan dengan kedatangan curah hujan serta kesuburan lahan pertanian.

“Kerang Spondylus adalah salah satu dari beberapa barang dari arkeologi Andes yang telah diteliti dengan cermat,“ kata Reindel. “Kerang itu merupakan simbol keagamaan yang sangat penting bagi air dan kesuburan. Seperti dupa di Dunia Lama, kerang spondylus dibawa dari tempat yang jauh dan ditemukan dalam konteks tertentu, seperti penguburan benda, juga pada altar ini. Ia dihubungkan dengan aktivitas tertentu untuk berdoa meminta air. Dan sudah jelas,” tambahnya, “bahwa di daerah ini, air adalah masalah penting.”

Namun, semua persembahan dan doa itu tidak mendapatkan jawaban. Pada 2004, di situs La Tiza di selatan daerah Nasca yang menghadap ke Sungai Aja nan kering, arkeolog Christina Conlee menorehkan penemuan yang mencekam saat menggali sebuah makam suku Nasca. Bagian pertama dari kerangka yang muncul dari dalam tanah bukanlah tengkorak melainkan tulang leher. “Kita bisa melihat tulang belakang berada paling atas,” ujar Conlee. “Orang itu berada dalam posisi duduk, dengan tangan bersedekap dan kaki bersila, tapi tanpa kepala.”

Tanda-tanda pemenggalan pada tulang leher yang menonjol menunjukkan kepala itu mungkin telah dipenggal dengan pisau obsidian yang tajam. Dalam menegaskan pesan yang hendak disampaikan, sebuah pot keramik yang dikenal sebagai buli-buli kepala diletakkan di siku kerangka tersebut; ia menggambarkan sebuah “trofi kepala” yang baru dipenggal, dari dalamnya muncul sebuah batang pohon bergaya Halloween dengan sepasang mata yang menakutkan. Menurut Donald Proulx, ahli tembikar suku Nasca serta pensiunan profesor di University of Massachusetts Amherst, jenis buli-buli itu menunjukkan tanggal pembuatan sekitar 325-450 M.

Segala sesuatu tentang penguburan posisi kerangka, buli-buli kepala, dan postur tubuh menunjukkan sebuah pemakaman yang sengaja diadakan dengan penuh rasa hormat. “Kita tidak akan melakukan penguburan seperti itu untuk musuh,” kata Conlee, peneliti di Texas State University. Analisis isotop atas tulang-tulang pemuda tersebut menegaskan bahwa dia hidup di daerah sekitar kuburan itu dan diperkirakan orang lokal, bukan musuh yang ditangkap dalam perang. Conlee menduga kalau kerangka itu mewakili sebuah ritual pengorbanan. “Walaupun kita menemukan trofi kepala sepanjang masa kejayaan suku Nasca,” katanya, “ada beberapa indikasi bahwa hal ini lebih sering terjadi di tengah dan akhir periode, dan juga pada saat-saat ketegangan lingkungan yang besar, mungkin masa kekeringan. Jika itu merupakan pengorbanan, hal itu dibuat untuk menyenangkan para dewa, mungkin karena kekeringan atau gagal panen. “

Tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya air diasumsikan telah menjadi penyebab utama berakhirnya kebudayaan Nasca, kira-kira antara 500 dan 600 M. Di daerah Palpa, ahli geofisika telah menelusuri perluasan padang pasir sisi timur sejauh 20 kilometer di sekitar lembah-lembah itu yang terjadi antara 200 SM sampai 600 M, di antaranya mencapai daerah pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Begitu pula dengan pusat-pusat populasi di sepanjang sungai di sekitar Palpa bergerak masuk lebih jauh ke dalam lembah, seolah mencoba mendahului kekeringan yang melanda. “Pada akhir abad keenam Masehi,” tulis Eitel dan Mächtle dalam kesimpulan yang dituangkan dalam jurnal mereka baru-baru ini, “kegersangan memuncak dan kebudayaan Nasca pun runtuh.” Pada 650 M, Kekaisaran Wari (Huari) yang lebih militeristik, yang berkembang dari basisnya di tengah-tengah dataran tinggi, menggantikan suku Nasca di daerah selatan padang pasir.

“Bukan cuma kondisi iklim yang menyebabkan runtuhnya kebudayaan Nasca awal di Cahuachi dan kita dapat mengatakan hal yang sama mengenai berakhirnya kebudayaan Nasca pada umumnya,” ujar Johny Isla. “Krisis itu diprovokasi karena air lebih merata di beberapa lembah dibandingkan lembah yang lainnya, dan para pemimpin lembah-lembah yang berbeda mungkin tenggelam dalam sebuah konflik.”

Tentu saja warisan kebudayaan Nasca hidup dalam gambar dan meski kebanyakan orang datang untuk mengaguminya dari udara, apa yang saya lihat dan dengar meyakinkan bahwa kita tidak dapat benar-benar memahami geoglyphs tersebut kecuali jika kita mengamatinya dari permukaan. Dalam sebuah percakapan, Isla menguraikan sensasi yang dia dapatkan saat menyusuri jalanan suci tersebut. “Kamu bisa merasakannya,” katanya. Penasaran tentang perasaan itu, aku meminta apakah bisa menyusuri beberapa gambar di Cresta de Sacramento, sebuah bukit kecil di utara kota Palpa.

Kami bertemu kala fajar di pagi musim dingin bulan Agustus. Kabut merayapi lembah di bawah kami dan Matahari masih terperangkap di belakang kaki bukit Pegunungan Andes di sebelah timur. Tatkala kami menyusuri sebuah trapesium besar di lantai plato gurun, Isla mengingatkan untuk berjalan dengan hati-hati dan memperlakukan lanskap suci itu seperti layaknya seorang jagawana, mengembalikan batu yang berserakan ke tempatnya, seolah batu itu adalah tanah yang tercerabut akibat pukulan stik di padang golf. Setelah pendakian dengan berjinjit kaku selama beberapa menit, kami sadar kini sedang berdiri di jalur spiral kuno satu bentuk umum lainnya dari geogplyph Nasca.

Ketika kami berjalan di atas jalur spiral itu, kakiku secara otomatis mengajakku bertatap muka dengan setiap batas daerah tersebut: lembah Palpa di selatan, pegunungan pesisir di barat, “gunung suci” (Cerro Pinchango) setempat di utara, dan di timur, kaki bukit Pegunungan Andes, dengan kekuatan dewanya dalam mengasupi sungai-sungai rapuh yang melingkar melewati sistem pengairan Nasca, menyirami benih-benih peradaban yang ditaburkan dalam lingkungan kering ini. Jika saya melangkah ke dalam pusaran jalur yang berkelok-kelok ini pada zaman dahulu, dapat dipastikan saya pun akan menemui sesama pendoa yang menyusuri jalan yang sama. Saya menyadari, sebuah perjalanan doa Nasca akan memperkuat hubungan suci sekaligus hubungan sosial.

“Lihat!” seru Isla tiba-tiba. Matahari telah berada di atas kaki bukit dan cahaya paginya yang terang memproyeksikan bayang-bayang tubuh kami yang panjang ke atas geoglyph. Jalanan spiral ini berada di atas lanskap, perbatasannya yang terdiri dari tumpukan batu membentuk relief yang tajam.

Saat langkah kakiku terus menyusuri lekukan jalanan spiral itu, melintas di pikiranku bahwa salah satu fungsi yang paling penting dari gambar-gambar “misterius” Nasca kini tidak lagi menjadi misteri. Geoglyph ini menjadi pengingat ritualistik kinetik bagi masyarakat Nasca bahwa nasib mereka bergantung kepada lingkungan keindahan alaminya, kelimpahannya yang fana, dan kekerasannya yang mengancam hidup. Kita dapat merasakan rasa hormat mereka kepada alam, baik pada masa berlimpah maupun pada saat kekurangan, pada setiap gambar dan kurva yang mereka ukir di lantai padang pasir. Saat kaki kita mendarat di ruang suci mereka, bahkan untuk waktu yang singkat dan syahdu, agar kita  bisa merasakannya.

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

3 Responses to Para Roh kulit Gurun

  1. click here says:

    it seems quite trivial to expect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: