Perdamaian Itu Rapuh

Bahu dan dada membusung dipenuhi bekas luka khas suku itu. Titik dan garis bak kode morse yang tertera di wajah dan kening memberi tahu semua calon penjarah ternak bahwa dia, sebagai orang Murle, akan membela ternaknya dengan tombak, pisau, tinju, dan gigi.

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, sebelum perang saudara terakhir berkecamuk, seorang anak lelaki Sudan yang bernama Logocho mengintip ke pintu masuk gubuk ilalang keluarganya. Ayahnya melompat keluar dan menangkapnya, kemudian bersama anak yang lebih tua, sang ayah menahannya di tanah. Logocho bocah yang aneh. Di atasnya, bahu dan dada ayahnya yang membusung dipenuhi bekas luka khas suku itu. Titik dan garis bak kode morse yang tertera di wajah dan kening sang ayah memberi tahu semua calon penjarah ternak (suku Dinka, Nuer)bahwa dia, sebagai orang Murle, akan membela ternaknya dengan tombak, pisau, tinju, dan gigi.

Namun, anaknya tidak tampak berminat pada tradisi lama. Ketika anak-anak lain, termasuk abangnya, mengikuti upacara daur hidup Murle untuk anak-anak, ia lari dan bersembunyi di semak-semak. Kini tubuhnya yang mulus seperti anak sapi gemetar dan melengkung di tanah. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia orang Murle.

Yang lebih mengkhawatirkan, bocah sembilan tahun itu tidak tampak tertarik pada sapi. Seperti abangnya, Logocho juga berjongkok untuk menyusu langsung dari sapi, tetapi baginya sapi hanya berarti susu. Dari dahulu kala, orang Murle dan pesaing mereka di seluruh Sudan selatan hidup bersama sapi mereka. Mereka menamai sapi-sapi itu, menghiasinya, dan tidur bersamanya. Pria menggunakan sapi untuk membayar pengantin, yang akan memberinya anak, yang akan menggembalakan lebih banyak sapi.

“Buat apa kamu hidup? “tanya ayah Logocho.

Sementara para pria dan binatang berpindah dari satu sumber air ke sumber air lain, Logocho lebih suka tinggal di rumah bersama neneknya. Wanita tua itu mengais tanah keras untuk menanam sorgum, kacang, jagung, dan bahkan labu. Logocho membantu menanam benih, mengurus tanaman, dan memanen. Sang nenek melindunginya dari ayahnya.

“Kau istimewa,” demikian dia selalu berkata.

Sayang perempuan itu tak bisa menyelamatkannya sekarang. Ayahnya dan anak lelaki itu menekannya kuat-kuat ke tanah. “Naa?” jerit Logocho. “Mengapa?”

Ketika dia melihat “spesialis”, dia tahu jawabannya. Orang itu berlutut dan membungkuk di atas kepala Logocho, lalu meraih benda yang mirip kikir logam tipis. Dia membuka rahang anak itu secara paksa lalu menyisipkan pisau di antara dua gigi tengah bawah. Dia memasukkannya sampai ke gusi, lalu dengan menyentakkan pundak dia memutar pisau itu. Krak! Satu gigi seri pecah, dan darah memenuhi mulut Logocho yang mengerang. Spesialis itu kembali memasukkan bilah itu dan “krak!” menghancurkan gigi tengah satu lagi.

“Sekarang kau mirip Murle.”

Dalam beberapa bulan berikutnya, kekacauan melanda Logocho dan tanah airnya. Seorang ahli nujum di desa itu meramal keluarganya akan tertimpa bencana. Di seantero Sudan selatan, amarah sekian generasi meletus pada tahun 1983 dalam perang mengerikan yang tidak diketahui dunia luar. Selama dua dasawarsa berikutnya, lebih dari empat juta orang selatan melarikan diri dari desa masing-masing ke pedalaman, kota-kota di utara, dan negara tetangga. Dua juta tewas.

Riwayat hidup Logocho melarikan diri, berperang, mencari tujuan hidup paralel dengan riwayat Sudan selatan itu sendiri. Namun, pada hari ini sang ayah melepaskannya dan berjalan menjauh bersama spesialis. Logocho berguling miring sehingga darah dari mulutnya bisa mengalir, membasahi debu.

Penyebab ketegangan di Sudan begitu geografis, begitu tegas, sehingga bahkan bisa dilihat dari permukaan bulan. Kemuning Sahara nan luas di utara Afrika versus sabana dan hutan hijau di bagian tengah benua yang menyempit. Gading besar yang bernoda rumput. Penduduk pada umumnya bermukim di kedua sisi hutan pemisah itu. Sudan tepat berada di garis itu, dengan gurun kering di utara dan padang rumput serta hutan hujan tropis di selatan, dan budaya yang sangat berbeda di kedua sisinya.

Di Sudan, dulu terjadi benturan antara orang Arab dan Afrika berkulit hitam. Penakluk Islam pada abad ketujuh mendapati bahwa banyak penduduk negeri yang pada saat itu disebut Nubia menganut agama Kristen. Bangsa Nubia mengadakan perlawanan sehingga terbentuk pakta perdamaian yang bertahan lebih dari satu milenium, sampai serbuan wali Turki Utsmani di Kairo, yang menjadikan negeri di selatan Mesir itu sumber gading dan manusia. Pada 1820 dia memiliki 30.000 orang budak yang dikenal sebagai Sudan, yang berarti “hitam”.

Akhirnya penentangan global terhadap perbudakan menghentikan perdagangan budak. Dinasti Utsmani meninggalkan Sudan pada awal 1880-an, dan pada tahun 1899, setelah periode kemerdekaan Sudan yang singkat, Inggris merebut daerah itu, memerintah belahan utara dan selatan sebagai wilayah terpisah. Mereka tidak bisa menjaga seluruh Sudan, jadi Inggris memerintah dari Khartoum dan memberikan kekuasaan terbatas kepada para kepala suku di provinsi-provinsi. Pada masa pendudukan itu, Inggris mendorong Islam dan bahasa Arab di utara serta Kristen dan bahasa Inggris di selatan. Karena upaya dan sumber daya dipusatkan di utara, Inggris membuat selatan terbengkalai. Pertanyaan yang timbul dari keadaan ini adalah: “Mengapa? Apa sebabnya dibuat satu Sudan?”

Salah satu alasannya, sekali lagi, adalah geografi. Aliran Sungai Nil ke utara menuju Mesir menyatukan berbagai suku di tepinya dalam hubungan yang tidak pasti, kadang saling benci. Sungai ini menentukan perdagangan, lingkungan, bahkan politik, menghubungkan  utara dan selatan. Ketika Inggris berkuasa, mereka perlu mengontrol Terusan Suez di muara sungai Nil, karena menghubungkan Inggris dengan “permata mahkotanya”, India. Itu berarti harus menguasai Nil.

Ketika Inggris mundur pada pertengahan tahun 1950-an, tak heran terjadi perang saudara di tempat itu. Pemberontak selatan memerangi pemerintah utara dengan sengit selama 1960-an, dan setengah juta orang tewas sebelum kedua belah pihak mencapai kesepakatan pada tahun 1972. Namun, pakta itu hanya memberi kesempatan kedua pihak untuk menyiapkan senjata kembali untuk perang yang jauh lebih berdarah.

Selama jeda antara dua perang saudara itu, pemerintah di Khartoum bekerja sama dengan Mesir memulai sebuah proyek mengejutkan di selatan. Di tempat yang dilalui anak-anak Sungai Nil di Sudan selatan–dataran tinggi nan luas–terbentuk Sudd, salah satu lahan basah terbesar Afrika. Banjir tahunan sungai menyuburkan padang rumput tempat suku-suku di selatan menggembalakan ternak. Kedua mitra itu memutuskan untuk membangun kanal sepanjang 360 kilometer untuk mengalihkan aliran sungai yang melintasi Sudd ke utara ke Mesir yang haus pasokan air. Mereka membawa mesin penggali setinggi gedung delapan tingkat, dan warga suku asli tanpa daya menyaksikan padang rumput mereka terkoyak-koyak.

Pada awal perang saudara 1983, terbentuk kelompok pemberontak yang disebut Sudan People’s Liberation Army (SPLA). Salah satu tindakan awalnya yang terkenal adalah menyerang markas konstruksi Terusan Jonglei, menghentikan proyek itu.

Pertumpahan darah terjadi pada tahun-tahun berikutnya, baru berhenti pada tahun 2005 setelah manuver diplomatik belakang layar yang luar biasa menghasilkan Perjanjian Damai Komprehensif. Pakta ini memberi sedikit otonomi pada Sudan selatan: konstitusi (berdasarkan pemisahan agama dan negara), tentara, dan mata uang sendiri. Sekarang Sudan terombang-ambing antara kemungkinan perdamaian abadi dan ancaman kekerasan baru. Menurut perjanjian itu, pada 2011 penduduk Sudan selatan akan memilih apakah akan memisahkan diri dari utara dan membentuk negara yang merdeka.

Jadi, muncul pertanyaan: Dengan adanya permusuhan seperti itu, mengapa pihak utara tidak membiarkan selatan memisahkan diri saja? Dan sekali lagi jawabannya adalah geografi. Geografi yang kini mengikat mereka dalam cara baru: minyak. Sebagian besar minyak berada di selatan, tapi semua kilang minyak terletak di utara, yang mengendalikan pembagian laba.

Suatu hari ketika Logocho berusia sembilan tahun, ayahnya memanggilnya. Dia mengancam tidak akan memberi sapi yang menjadi hak anak Logocho sehingga Logocho tidak punya maskawin. “Sepanjang aku masih hidup, kau tidak akan mudah menikah, karena kau tidak menyukai sapi. “Seorang saudari Logocho meninggal karena malaria. Seorang lagi meninggal karena disentri. Penyakit menimpa ternak mereka. bencana yang diramalkan ahli nujum, pikir para penduduk desa. Kemudian sang ayah meninggal. Tanpa sapi dan suaminya, ibu Logocho putus asa. Bagaimana dia bisa memberi makan anak-anaknya? Dia mengirim Logocho untuk tinggal bersama pamannya, yang rumahnya jauh dari situ. Pamannya terkejut saat melihat anak aneh yang dititipkan kepadanya itu. Siapa anak tidak berguna ini, yang tak bisa menggembalakan kambing, apalagi sapi? Sang paman membentak, mengancam, dan mengamuk, sementara Logocho mengkeret ketakutan.

Kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa. Perang saudara kedua dimulai, dan SPLA menghentikan mesin penggali-terusan yang besar. Suatu hari seorang tentara SPLA datang mencari makanan ke tempat Logocho, dan anak itu memberinya daging. Tentara pernah datang sebelumnya, dan Logocho merasakan ketakutan dalam suara pamannya saat ia menyumbangkan sapi jantan untuk bahan makanan mereka. Sekarang tentara ini meletakkan lima peluru di tangan Logocho, imbalan atas bantuannya. Anak itu memberikan tiga peluru kepada pamannya dan menyimpan dua peluru untuk dirinya sendiri, yang kemudian ditembakkannya ke udara dengan pistol pinjaman. Kekuasaan prajurit itu status seragamnya, wibawa senjatanya tertanam dalam benak Logocho. Dia menyusun rencana.

Ketika pamannya menyuruh Logocho, yang kini berusia 12, menggembala, dia dan lima temannya memisahkan diri. Mereka melarikan diri ke hutan, sembunyi-sembunyi dan kelaparan sampai bertemu empat tentara SPLA yang sedang berburu. Dua minggu kemudian mereka sampai di sebuah kamp SPLA di pedesaan dekat Boma, berkumpul bersama calon anggota lain yang ingin bergabung dengan pemberontak. Beberapa tentara dewasa tinggal di kamp itu, setengah kelaparan dan menunggu perintah. Selama sebulan kelompok itu hanya makan hewan liar. Kemudian komandan SPLA mengirim perintah: Bergerak ke Etiopia. Jalan kaki.

Pada saat bersamaan, pertengahan 1986, seorang Amerika bernama Roger Winter terbang ke Ethiopia untuk bertemu dengan pemimpin karismatis SPLA, John Garang. Winter, saat itu berusia awal 40-an, telah menghabiskan hidupnya bekerja menangani orang-orang yang putus asa. Saat kuliah ia menjadi relawan di South Side of Chicago, kemudian bekerja untuk Salvation Army, dan akhirnya bekerja dalam pemerintahan Jimmy Carter, menolong pengungsi yang melarikan diri dari negara penindas. Sekarang dia memimpin lembaga nirlaba U.S. Committee for Refugees, terutama berfokus pada negara Afrika yang runtuh seperti Rwanda, Etiopia dan Sudan.

Winter menyukai Garang yang rumit. Dia memiliki senyum ceria dan gelar doktor dari Iowa State University, tempat dia belajar ekonomi di antara dua perang saudara. Dia membaca karya Karl Marx dan Injil. Pasukannya menggunakan tentara anak-anak, tetapi dia menciptakan visi “Sudan Baru” bersatu, dengan utara dan selatan yang damai. Dan sekarang Garang bertanya: Apakah Amerika akan membantu orang Sudan selatan?

Winter merasa tempat itu menyedot dirinya ke dalam pusaran kekacauan. Dia menganggap dirinya pejuang hak asasi yang bertugas memperingatkan dunia tentang bencana yang akan datang. “Perang sangat keji” yang dilihatnya di Sudan mengguncangnya, perang yang membuat semua pengamat serius harus memilih: hengkang atau terlibat.

Di pos luar SPLA, dengan dikawal oleh sekitar selusin tentara, Logocho dan anggota baru lainnya beriringan menuju Etiopia. Makan dan minum anak-anak itu sekarang tergantung sepenuhnya kepada para prajurit. Yang lain bergabung dalam perjalanan, dan tak lama kemudian jumlah anggota kelompok ini lebih dari seratus, memanjang lebih dari satu kilometer.

Setelah beberapa kali makan daging kuda nil, perut Logocho melilit, dan menceret. Dia teringat saudarinya yang meninggal karena disentri. Menceret menyiksanya selama berjam-jam, menguras tenaga dan air dari tubuhnya. Akhirnya dia terbaring di tepi jalan dan mengamati sosok orang yang lewat. Beberapa orang berhenti, tetapi yang lain mendorong mereka maju. “Tinggalkan dia.”

Dia berbaring di sana terpanggang matahari, dan sebuah pikiran memenuhi benaknya: Aku akan mati.

Seorang pemuda bernama Jowang (masih kerabatnya) melihatnya. “Aku akan mengambil air dan kembali ke sini,” ucapnya. Beberapa saat kemudian muncul seseorang membawa air, dan Logocho menuangkannya ke mulut. Setelah beberapa waktu dia berdiri dan meneruskan perjalanan. Dia bertahan demi apa pun yang nanti ditemui di Etiopia. Makanan dan air. Istirahat.

Pada akhir hari yang lain, seorang prajurit mengumumkan: Di depan ada hutan luas, dan di sana tidak ada air. Untuk mencapai air di seberang hutan, mereka harus berjalan sepanjang malam, saat suhu sedang turun. Mereka memasuki hutan saat mulai gelap, dan para pria menempatkan anak-anak di tengah barisan dan mengawasi kepala yang terangguk-angguk.

Pada dini hari mereka keluar dari hutan, kelelahan. Keringat mengering di kulit mereka yang dingin, dan mereka berhamburan maju ketika melihat sungai di depan. Seorang prajurit mengangkat tangan memberi peringatan. Dia dan yang lain menembakkan senapan ke dalam air, dan beberapa ekor buaya menjauh. Anak-anak berkumpul dan mengarungi air sementara tentara menembak ke sekitar mereka, dan dengan lega mereka mendarat ke pantai seberang.
Tinggal sedikit lagi sekarang.

“Kau masih muda dan perlu waktu menyesuaikan diri di sini,” kata para prajurit kepada Logocho saat ia pertama kali tiba di Etiopia setelah 12 hari perjalanan yang sangat meletihkan. Orang-orang berdatangan dari seluruh Sudan selatan ke kamp di dekat Gambela ini. Ini kamp pengungsi, tetapi SPLA menggunakannya sebagai tempat rekrutmen, membagi anak-anak dan orang dewasa berdasarkan umur, kekuatan, dan stamina.

Di kemudian hari, saat Roger Winter berkunjung ke kamp di Etiopia, dia menatap wajah anak-anak itu, dan hatinya trenyuh. Mereka berjalan dengan kaki kurus, sebagian gigi tonggosnya mencuat dari pipi kempot, yang lain matanya melotot, buta akibat kelaparan dan penyakit. Dia tak yakin akan bertemu lagi dengan mereka sebagai pria dewasa.

Banyak anak-anak itu yang kurang gizi karena pemerintah Sudan utara menemukan cara menggunakan makanan sebagai senjata. Pada awalnya, penduduk desa di kawasan selatan berkumpul di daerah terbuka ketika mendengar deru pesawat terbang, karena selalu diikuti oleh jatuhnya karung-karung makanan. Jadi pemerintah mulai mengirimkan pesawat sesudahnya, menjatuhkan bom. Ini memiliki efek ganda yang menghancurkan: Mengefisienkan pembunuhan, karena sedikit bom bisa menewaskan kerumunan orang, dan mengajari orang agar takut terhadap makanan yang dijatuhkan dari udara, sehingga mereka menjauh dan kelaparan.

Kekejaman yang sama di Darfur menyebabkan International Criminal Court di Den Haag pada Maret 2009 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap presiden Sudan, Omar al-Bashir, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pada Juli 2010 ia juga didakwa dengan genosida, dan surat perintah penangkapan kedua pun dikeluarkan.

Logocho tadinya berharap bisa bergabung dengan pasukan tempur, tapi ia tidak mampu mengangkat AK-47 cukup lama untuk membidik sasaran. Jadi, selama enam bulan, di kamp pelatihan Bonga, dia mempelajari keterampilan taktis lainnya, dari rangkak komando sampai menyimpan rahasia. Ketika John Garang sendiri datang untuk berbicara kepada tentara baru, dia menyampaikan pidato yang menggugah semangat, membagikan seragam, dan membagi mereka menjadi dua kelompok. Pria dewasa dan anak yang lebih besar boleh ikut berperang, sedangkan Logocho dan anak yang lebih kecil harus bersekolah di kamp pengungsi Dima, sambil selalu siap kalau dipanggil bertempur.

Pada usia 15, Logocho akhirnya cukup kuat untuk memanggul senjata, dan selama tiga minggu dia berbaris bersama tentara lainnya ke benteng SPLA di Kapoeta, di dekat perbatasan Uganda-Kenya. Dia tak sabar mulai bekerja sebagai tentara, karena telah melihat kekuasaannya atas pamannya yang sewenang-wenang. Begitu tiba di garis depan, datang laporan tentang tembakan yang terjadi di sumur di dekat situ. Logocho dan seorang pemuda lain pergi memeriksanya, dan menemukan dua rekan mereka ditembak mati oleh penembak jitu. Saat dia membantu menggotong salah satu jenazah itu, dia pun tahu: Perang bukanlah tujuan hidupnya. Perang tidak sesuai untuknya.

Selama beberapa tahun berikutnya Logocho bertempur sebagai pemberontak dan menembakkan senjata dengan patuh, tapi tidak pernah mampu memaksa diri membidikkannya kepada manusia lain. Ketika teman-temannya menemukan orang Arab yang terluka di medan perang, mereka membunuhnya dengan santai. Logocho tidak bisa begitu.

Pasukan utara memiliki peralatan dan persenjataan yang jauh lebih unggul. Mereka menggunakan jet untuk membom tangki bahan bakar dan tentara selatan, sehingga SPLA melancarkan perang gerilya di hutan. Setiap kali unit Logocho pindah ke wilayah baru, setiap prajurit menggali lubang dangkal seukuran manusia. Ketika mendengar deru pesawat pembom di langit, mereka terjun ke dalam lubang, berharap selamat. Lebih dari sekali Logocho menelungkup, menghirup bau tanah galian sementara teman-temannya meninggal di sekelilingnya.

Seorang teman beragama Kristen pernah memperlihatkan Injil kepadanya, dan salah satu ceritanya kini terasa masuk akal. “Celakalah,” kata Yesaya tentang tempat yang kini disebut Sudan. “Celakalah negeri dengingan sayap di seberang sungai-sungai Etiopia.”

Pesawat pembom berputar-putar di langit seperti belalang. Roger Winter tahu dia telah membuat keputusan penting. Memang, ada pekerja hak asasi manusia lain yang bertindak lebih jauh–seorang mantan pastor Irlandia terjun langsung dalam perang, menyelundupkan senjata bagi pemberontak–tetapi dalam diri Winter, pimpinan Sudan selatan mendapati bimbingan dan inspirasi.

Pada tahun 1994 para pemimpin sayap politik SPLA, Sudan People’s Liberation Movement (SPLM, Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan), mengadakan konferensi nasional pertamanya, di dalam hutan di dekat perbatasan Uganda. Khartoum tahu tentang pertemuan itu dan mengirim pesawat untuk membomnya.

Para pemimpin Selatan sudah lama meninggalkan kota dan jalan yang menjadi sasaran empuk untuk bom dan masuk ke hutan belantara. Orang-orang seperti Garang dan wakilnya, Salva Kiir, dibesarkan di tenda gembala pedesaan dan merasa nyaman dalam lindungan pedalaman. Lebih dari 500 orang datang ke pertemuan itu dari seluruh Sudan, dan prajurit SPLA menembus rerumputan tinggi di sekeliling lokasi pertemuan, menyapu jalan setapak agar tidak terlihat oleh pesawat pengebom. Penyelenggara pertemuan membuat undakan di lereng bukit, sehingga orang bisa duduk di situ, di amfiteater yang tersamar oleh alam, dan mendengarkan Winter berbicara tentang demokrasi. Setelah konvensi politik pertama yang apa-adanya itu, SPLM membentuk pemerintahan sendiri, dengan Garang sebagai ketua.

Pada bulan Januari saya duduk bersama Salva Kiir, yang menjadi presiden Sudan selatan setelah Garang tewas dalam kecelakaan helikopter tahun 2005, dan dia tampak gelisah memegang jabatan presiden, dikelilingi gemerlap kekuasaan politik Afrika pusat. Dia memakai topi koboi hitam, hadiah dari Presiden George W. Bush, dan berselonjor di sofa berhias dengan canggung, seolah sofa itu terlalu sempit. Jabatan politiknya juga dapat dikatakan menjepitnya. Dia tidak pernah mengira akan terpaksa menjabat sebagai presiden, katanya, dan dalam visinya untuk Sudan selatan, dia akan segera menyerahkan jabatan itu kepada orang lain. “Peralihan kekuasaan yang damai,” katanya, “itulah dasar demokrasi yang baik.”

Pada tahun-tahun setelah pertemuan di hutan, Winter terus sibuk mengurus Sudan selatan, berusaha membuat Sudan dan Amerika saling memahami. Di Sudan selatan, rakyat hampir tak tahu apa-apa tentang politik Barat; mereka sering menyebutnya Senator Roger ketika dia muncul di hutan. Orang Amerika tahu lebih sedikit lagi tentang Sudan. Pada tahun 2001 Winter mulai bekerja di U.S. Agency for International Development, dan perang di Sudan selatan menyita perhatiannya.

Pada 11 September pagi, dia sedang mengadakan pertemuan di Washington, D.C., tentang kemungkinan gencatan senjata di Pegunungan Nuba. Di tengah-tengah pertemuan tersebut, datanglah kabar tentang serangan teroris hari itu, disertai perintah untuk mengevakuasi kantor federal. Saya tidak mau pergi, Winter ingat dia berpikir begitu. Kesepakatan sudah hampir tercapai. Dia tadinya berencana berkendara ke Kedutaan Besar Sudan, tapi kemacetan membuat hal itu mustahil, sehingga sepanjang hari itu dia bernegosiasi lewat telepon.

Pada tahun-tahun awal perang saudara, orang Amerika yang memerhatikan Sudan selatan hanyalah beberapa anggota gereja Kristen. Mereka memandang perang itu sebagai perang agama antara agresor Islam dan korban non-Muslim. Peristiwa 11 September memperkuat pandangan itu. Para pemimpin gereja dan jemaatnya mendesak para pembuat kebijakan di Washington, D.C., untuk bertindak di Sudan selatan.

Winter tahu bahwa perang saudara Sudan bukan hanya pertempuran antara Islam dan Kristen. Sudan selatan di banyak tempat merupakan kumpulan berbagai suku penganut animisme yang tak tahu apa-apa tentang Kristen. Dia tahu kesetiaan suku lebih berarti daripada agama. Dia tahu situasi ekonomi yang terlibat, tahu bahwa utara menekan pembangunan di selatan. Dia ingin lebih banyak orang Amerika, terutama di Washington, D.C., memikirkan Sudan, dan meminta bantuan wartawan dan legislator.

Di tempat bangsa Arab dan Afrika kulit hitam dulu memperebutkan padang gembala, kini mereka berebut minyak–sebanyak tiga miliar barel, kebanyakan di tanah sengketa di perbatasan utara dan selatan, tempat suku dan klan sudah lama bentrok.

Konflik ini rumit, tetapi Winter tidak pernah mengabaikan kekuatan agama sebagai kekuatan kebaikan. Dia sudah pernah melihatnya sendiri pada tahun 2002.

Di sebuah desa Sudan selatan bernama Itti, di dekat perbatasan Etiopia, dia menemukan gereja Presbiterian beratap ilalang yang setiap hari Minggu dipadati 300 orang lebih. Mereka bermain gendang yang terbuat dari kulit binatang, dan Winter tersentuh oleh ibadat mereka. Pada suatu hari Minggu, pendetanya yang masih muda, pria bernama Simon yang pernah bertemu sebentar dengan Winter, melangkah ke depan ruangan dan berbicara tentang “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,” mengutip Paulus. Perdamaian bahkan dengan orang Arab.

Winter berpikir: orang ini adalah perwujudan kearifan.

Setelah kebaktian, dia mendekati sekelompok penatua gereja dan bertanya apa yang dapat dilakukannya untuk membantu jemaat. Mereka berunding, sementara Winter dan Simon mendiskusikan kemungkinannya. Para penatua bisa meminta apa saja. Gedung baru. Alat musik. Makanan. Obat. Uang.
Pendeta kami, Simon, adalah orang yang cerdas, kata mereka. Tapi dia tidak pernah mengenyam pendidikan pendeta yang layak. Dapatkah Anda membantunya?

Winter tertegun. Orang-orang ini makan saja hampir tidak cukup, dan mereka memilih pendidikan? Selama beberapa tahun berikutnya dia sendiri membiayai Simon sekolah teologi di Kampala, Uganda, memegang janji pemuda itu bahwa dia akan kembali ke desa Itti yang relatif kecil dan terpencil.
Dan Winter melipatgandakan upaya perdamaiannya.

Saat membaca Alkitab milik temannya di barak SPLA suatu malam pada tahun 1991, Logocho akhirnya menyadari sesuatu. Ya, pikirnya. Ini tujuan saya. Dia memutuskan akan menjadi pendeta.

Segera setelah itu, seorang pendeta Protestan membaptisnya dan bertanya apakah ia ingin memilih nama baru, identitas baru. “Ya,” jawab Logocho. “Simon.”

Dia meletakkan senapan, meninggalkan SPLA, dan masuk sekolah bagi pengungsi di Kenya, tempat ia melanjutkan belajar bahasa Inggris. Kemudian dia masuk sekolah Injil, dan akhirnya bertugas di gereja terpencil di Itti, tempat seorang Amerika botak bernama Roger datang pada suatu hari Minggu dan duduk di tanah di antara jemaat lain. Pendeta muda itu menyampaikan khotbah sederhana yang mengilhami salah satu arsitek utama negeri yang mungkin menjadi negara demokrasi terbaru di Afrika.

Tahun-tahun perjuangan diplomatik Winter berpuncak pada perjanjian 2005 yang ditandatangani utara dan selatan. Kekacauan dan pembantaian dalam sejarah Sudan menyebabkan orang sulit memastikan, dapatkah perjanjian itu bertahan sampai referendum kemerdekaan pada 2011. Tapi Winter–bersama dengan rekan-rekan AS-nya dan negosiator dari Kenya, Inggris, Norwegia, dan tempat lain–berhasil memperjuangkan sesuatu yang dulu tampaknya mustahil di Sudan: perdamaian. Perdamaian yang telah berlangsung selama lima tahun.

Baru-baru ini saya berjalan bersama Simon di Itti. Dia tidak punya status sosial tinggi, karena tidak memiliki sapi, dan dia tampak asing dengan kacamata dan sepatu pantofel bersol licin. Selama tiga tahun terakhir dia mencari nafkah pada hari kerja dengan melakukan penyuluhan masyarakat untuk Wildlife Conservation Society. Penduduk desa melambai padanya, dan mereka berjanji untuk datang pada Minggu pagi. “Orang besar!” panggil mereka.
“Saya bukan orang besar,” katanya sambil tertawa.

Simon bisa saja tinggal di Uganda atau pergi ke Kenya. Seperti yang anak-anak Sudan dalam film Lost Boys, ia dapat saja beremigrasi ke Amerika, tempat ia bisa hidup lebih baik. Mengapa tidak pergi ke Amerika Serikat? Dia tersenyum dan, seperti biasa, membuat suara decak pelan dengan menarik lidah dari ompong dalam senyumnya.

“Tidak,” ujarnya. Dan dia terdiam sesaat.

Sejak anak-anak, Logocho telah meninggalkan tradisi menggembala. Dia dewasa di tengah kekacauan dan luka perang, dan kemudian, ketika dia menjadi Simon, dia menggunakan imannya untuk menyentuh seorang Amerika berpengaruh, yang memberi dukungan untuknya dan negerinya. Riwayatnya adalah riwayat Sudan selatan, dan tujuan hidupnya adalah rakyatnya.

“Tidak,” ujarnya. “Inilah tempat saya.”

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: