Perang Opium dan Kedamaian

Oleh Robert Draper

Langkah penting untuk memastikan perdamaian adalah membujuk para petani Afghanistan untuk berhenti menanam opium.

Kepala polisi itu memiliki cara yang mengesankan untuk menunjukkan bahwa dia tidak gentar menghadapi para penyelundup narkoba. Dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan bahwa dia sudah tidak punya jari tengah. Empat tahun silam, Brigjen Aqa Noor Kintuz menjabat sebagai kepala polisi Provinsi Badakhashan di timur laut Afghanistan dan ditugasi memusnahkan ladang opium yang jumlahnya banyak sekali. “Setelah menyelesaikan salah satu prakarsa pemusnahan pertama,” katanya, “kendaraan saya diledakkan oleh bom jarak jauh.” Digulungnya lengan kemeja kanannya. Lengan bawahnya cacat parah. Bertahun-tahun sejak kejadian itu, dia sering sekali menerima ancaman pembunuhan. Kaum wanita dan anak-anak petani opium melontarkan batu kepada anak buahnya. Salah satu traktornya untuk memusnahkan ladang opium dibakar.

Realitas suram yang menyelimuti Afghanistan dewasa ini, yang 85 persen warganya petani, adalah bahwa perekonomiannya digerakkan oleh dua sumber yang saling bertentangan. Dana pertama mengalir dari sumber di dunia Barat, dengan harapan negara itu menyingkirkan Taliban. Dana lainnya berasal dari perdagangan opium yang didukung oleh Taliban, yang menggunakan keuntungannya untuk membiayai serangan terhadap pasukan Barat. Baru belakangan inilah pemerintah Afghanistan tampaknya menyadari situasi nyata yang dihadapinya: Agar bantuan dari luar terus mengalir, ketergantungan perekonomian negara pada opium harus diakhiri. Ladang opium harus dimusnahkan. Namun, sebagaimana halnya negara Muslim yang taat ini tidak begitu saja menjadi pemasok terbesar opium di dunia, mencerabut pola pikir Afghanistan dalam hal opium pun bukanlah tugas sederhana.

Di Badakhshan, kepala polisi Kintuz tampaknya memperoleh kemajuan dalam upayanya memusnahkan opium. Lima tahun silam, provinsi itu penghasil opium terbesar kedua di Afghanistan, setelah provinsi Helmand yang berada di bawah kekuasaan Taliban. Untuk kurun waktu yang singkat setelah Taliban melarang petani menanam opium pada 2000, Badakhshan bahkan memimpin dalam pembudidayaan opium, karena provinsi itu dikuasai milisia Aliansi Utara, bukan Taliban. Ketika Kintuz mengawali tugasnya pada 2007, sekitar 3.650 hektare lahan ditanami opium. Dua tahun kemudian, yang tersisa kurang dari 600 hektare.

Upaya pemusnahan memaksa petani opium pindah ke daerah pedesaan terpencil. Ladang mereka, secara disengaja, boleh dikatakan tidak terlihat. Untuk menemukannya, kita harus berkendara selama berjam-jam melalui jalan pegunungan tersembunyi yang sudah rusak, ditemani orang yang mengenal wilayah itu dan, jika perlu, menjelaskan alasan kehadiran kita di situ. Kita harus mencari di tempat yang jauh dari tepi jalan, memandangi daerah pedesaan yang tanahnya bergelombang di kawasan Afghanistan utara—mengamati tumbuhan berwarna seragam, mencari semburat warna yang berbeda, yang tampak seperti tumbuhan yang lugu dan sekaligus sarat dosa, yang akhirnya menyerukan tanda yang amat jelas: ladang opium.

Seorang petani berjongkok membelakangi bunga opium itu, menyiangi ladang di sebelahnya. Dia lelaki berusia 37 tahun dengan ciri khas sosok orang Mongol, mengenakan kemeja panjang cokelat, turban, dan senyum penuh keraguan. Dia memperkenalkan dirinya, Mohamad Khalid. Dia mengakui bahwa ladang opium itu memang miliknya.

“Ayah saya mengajari saya cara menanam opium sepuluh tahun yang lalu,” katanya. “Sebelum tahun ini, saya mampu menghasilkan 27 kg opium dari ladang saya.” Dengan tubuh membungkuk sambil berjongkok, sementara ujung jarinya mengais-ngais tanah yang sudah dibajak, Khalid bercerita betapa para penyelundup mengijon opiumnya dan bahwa enam orang anggota keluarganya membantunya menyiangi, memangkas, dan akhirnya menyadap pasta opium berwarna gelap itu dari umbinya—musim membosankan yang berlangsung selama empat bulan yang tidak disesalinya mengingat keuntungannya yang besar. Bongkahan opium berbentuk batu bata yang dibungkusnya dengan plastik dan dibawanya ke pasar cukup untuk membeli makanan yang dibutuhkan keluarganya. “Opium banyak manfaatnya,” katanya.

Mengingat gencarnya pemusnahan, Khalid menyusun strategi baru. Lahan pertaniannya yang paling kentara, kawasan yang sekarang sedang disianginya, sejak saat ini digunakan untuk menanam gandum dan melon. Hanya lahan yang sempit sajalah, yang nyaris tak terlihat dari jalan, akan tetap digunakan untuk menanam tanaman berharga mahal itu. “Dari ladang kecil itu,” katanya sambil menoleh sekilas ke hamparan tumbuhan berwarna ungu, merah muda, dan putih itu, “saya bisa mendapatkan sekitar 1 kg opium. Mungkin bernilai Rp800.000.”

Dengan hanya paham secara samar-samar bahwa petani seperti dia menjadi penentu arah masa depan Afghanistan dan keamanan nasional Amerika, Khalid mengerutkan kening dan berkata, “Saya tidak tahu mengapa ladang opium dimusnahkan. Saya hanya petani miskin, dan yang selalu saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya.”

Pada suatu pagi, saat musim panen, Kepala Polisi Kintuz dan timnya memusnahkan ladang opium di distrik Badakhshan di Argo, hanya dua hari setelah sembilan anggota pasukan anti-narkobanya tewas oleh bom jalanan di Darayem. Pada saat subuh, iring-iringan pasukan itu berangkat dari ibukota provinsi Feyzabad berkendara melewati kelompok rumah yang relatif masih baru yang dibangun pada masa sebelum kegiatan pemusnahan yang menyebabkan terhentinya pembangunan perumahan tersebut. Berkat upaya Kepala Polisi Kintuz, pedesaan yang berbukit-bukit ini tidak lagi menampilkan pemandangan berupa hamparan luas tanaman opium.

Jalan sepanjang 14 kilometer menuju Argo rusak parah. Penghancuran ladang opium menyebabkan kondisinya sekarang lebih buruk daripada dulu sebelum kontraktor AS dibayar Rp250 miliar untuk mengaspalnya. Sambil berkendara melintasi pusat distrik, melewati puluhan toko yang sudah tidak beroperasi lagi, yakni tempat penjualan opium secara terang-terangan di masa lalu, iring-iringan itu disambut dengan tatapan tajam penduduk desa. Beberapa kilometer setelah melewati Argo, dekat desa Barlas, sekitar 30 orang petugas anti-narkoba bersenjata turun dari kendaraan. Mereka berjalan kaki menuju perbukitan, mencari ladang opium yang sudah ditandai untuk dimusnahkan.

Ladang itu ada di mana-mana, puluhan ladang berwarna-warni, semuanya dengan luas masing-masing di bawah satu acre. Para petugas menuruni ladang dengan membawa batang bambu dan membabat bunga opium dengan penuh semangat seperti seorang penyabit. Sang kepala juga ikut membabati tanaman itu. Seorang pengamat dari Badan Narkoba dan Kriminal PBB (UNODC) dengan cermat mencatat setiap ladang yang dimusnahkan di buku catatannya. Seorang petani muda memperhatikan pemusnahan sistematis ini sambil berjongkok di ladangnya. “Lahan itu milik tetangga saya, Israyel,” katanya. “Tampaknya dia tahu para petugas akan datang dan tidak ingin menyaksikan pemusnahan ini. Tahun lalu polisi sudah memperingatkan kami untuk tidak menanam opium. Jadi, saya beralih menanam melon. Tetapi, semua ini lahan tadah hujan, jadi di musim kemarau, saya kesulitan.”

Saya tanyakan apakah dia atau tetangganya menerima sebagian dari dana jutaan dolar yang disalurkan ke Provinsi Badakhshan dari Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan berbagai organisasi Barat lainnya dalam upaya membujuk petani Afghanistan untuk tidak menanam opium. “Mereka berjanji kepada gubernur distrik Argo bahwa mereka akan memberi kami benih gandum dan pupuk dalam karung,” jawabnya. “Tapi, sampai sekarang belum kami terima.” Jawaban ini sama dengan yang diberikan oleh seorang tua di dekat distrik Tashkan: “Pemerintah berkata, ‘Kami akan membangun jalan, jembatan, dan saluran, dan kalian pasti melupakan opium untuk selamanya.’ Itu diucapkan lima tahun yang lalu. Pada kenyataannya Pemerintah tidak melakukan apa-apa.”

Namun, sebenarnya ada beberapa hal yang sudah dilakukan Pemerintah jalan raya yang baru diaspal dari Feyzabad ke Kabul, sejumlah proyek pembangunan jalan di Tashkan, ladang saffron di Baharak, dan 18 kantor polisi distrik yang baru. Namun, meskipun ada proyek yang bermanfaat, dapat ditemukan juga desa semacam desa Sar Ab di distrik Yamgan, yang bertebaran di seluruh provinsi yang luas itu. Di desa seperti itu tidak tersedia klinik kesehatan sehingga penduduk menggunakan opium sebagai satu-satunya obat; akibatnya, separuh dari 1.800 orang penduduk desa menjadi pecandu narkoba. Atau desa Du Ghalat di Argo; di situ seratus orang anak berjejalan seperti hewan ternak di lantai tanah sebuah bangunan sekolah butut yang dibangun dengan uang opium yang sekarang sudah mengering saat dimulainya pemusnahan ladang opium. Atau dana jutaan dolar yang berasal dari setoran para wajib pajak di AS yang dialokasikan untuk membiayai berbagai proyek pertanian di Badakhshan, yang menurut salah seorang petugas anti-narkoba “tidak pernah sampai menguap di jalan.”

Para petugas beranjak ke ladang opium milik seorang janda. Dia sedang duduk di atas keledai, menangis terisak-isak ketika para petugas mengobrak-abrik hasil kerja almarhum suaminya yang menurut pengakuannya seorang mujahidin yang ikut berperang melawan Soviet dan belum lama ini melawan Taliban sebagai anggota Angkatan Bersenjata Nasional Afghanistan sebelum tewas akibat ledakan bom jalanan pada musim dingin yang lalu. Saat kami melangkah maju, tampak umbi opium di ladang yang sudah rata dengan tanah itu bergores-gores, pertanda bahwa getah opiumnya sudah disadap sebelum kami tiba. Saya juga mengamati ada ladang yang terlihat dengan jelas, tetapi dibiarkan saja. Apakah terlewat? Atau ada yang menerima suap?

Saat sang kepala dan anak buahnya beristirahat di bawah pohon setelah menikmati makan siang mewah berisi daging kambing, ayam, yogurt, dan sayuran segar yang dicuri dari ladang terdekat, saya bertanya kepadanya apakah ada anak buahnya yang mungkin terlibat dalam perdagangan narkoba. ”Ya, memang ada beberapa orang,” katanya perlahan. “Tapi, kita bicarakan nanti saja.” Ketika saya mengingatkannya akan janji itu pada minggu berikutnya, sang kepala mengatakan bahwa dia sudah membersihkan departemennya dari polisi yang menerima suap.

Katanya, dia tidak tahu apakah ada pejabat pemerintah di Badakhshan yang terlibat dalam penyelundupan “kalau saya tahu, pasti sudah saya tahan.” Saya tidak menceritakan kepadanya bahwa sumber lain mengatakan ada pejabat tinggi yang berperan sebagai penyelundup, di samping penyelundup lain yang merupakan calon anggota parlemen, menawarkan imbalan untuk membeli suara dan mengatakan kepada para petani bahwa jika dia terpilih, dia akan memastikan produksi opium akan berlanjut. Bahkan di saat Badakhshan bebas opium, para pemimpin dan pejabat pemerintah daerah diduga mencapai kesepakatan pembagian kekuasaan mengenai rute narkoba yang membawa opium melintasi batas utara menuju Asia Tengah. Perekonomian Afghanistan, bahkan juga di sini di wilayah yang dikuasai oleh non-Taliban di utara, masih tetap mengandalkan perdagangan narkoba.

Selama berabad-abad, opium hanya berperan kecil di Afghanistan sebelum akhirnya menguasai negara itu sepenuhnya. Meskipun Aleksander Agung tidak sepenuhnya berhasil menaklukkan sisi samping Kerajaan Persia di bagian timur laut yang berbukit-bukit ini pada abad keempat S.M., dia berhasil mewariskan narkoba sehingga pada akhirnya boleh dikatakan berhasil menaklukkan kawasan itu. Pembudidayaan opium muncul dalam sejarah tertulis Afghanistan sekitar 300 tahun yang lalu. Tanaman ini cocok untuk tanah lempung Badakhshan dan bagian timur Provinsi Nangarhar, tempat tanaman itu pertama kali dibudidayakan memerlukan pupuk dan curah hujan sedikit, musim tanam singkat, dan tidak memerlukan keahlian khusus, cukup kemampuan menebarkan benih dengan tangan dan menyayat umbi sampai terbuka sedikit. Opium berperan kecil, namun menguntungkan, dalam masyarakat petani negeri itu sepanjang abad ke-18 dan ke-19, bahkan juga ketika kekuasaan India dalam perdagangan opium di kemudian hari membuka jalan bagi Turki dan kemudian kawasan dataran tinggi Asia Tenggara, berkat semakin besarnya pasar untuk heroin di Eropa dan Amerika Serikat.

Barulah pada pertengahan abad ke-20 Afghanistan menjadi pengekspor opium. Atas permintaan PBB, yang dianggotai Afghanistan pada 1946, Raja Mohamad Zahir Shah untuk sementara menghentikan pembudidayaannya. Kondisi petani opium di Badakhshan dan Nangarhar meluluhkan hatinya sehingga dia membatalkan keputusannya. Sementara itu, hasil bumi yang menyebabkan para petani Afghanistan terkenal adalah kacang pistachio (Pistacia vera L., Anacardiaceae), kenari (Prunus dulcis, syn. Prunus amygdalus), delima, kapas, dan anggur.

Begitulah keadaannya sampai terjadi penyerbuan Soviet pada Desember 1979 yang secara radikal mengubah pola pertanian Afghanistan. Penjajah baru ini menutup pasar buah-buahan negara itu dan menutup pengoperasian mesin pemisah kapas agar menguntungkan ekspor Uzbekistan. Perang sepuluh tahun berikutnya antara Soviet dan kaum mujahidin yang didukung AS menyebabkan rusaknya beberapa fasilitas pertanian, seperti jalan dari ladang ke pasar, saluran irigasi, silo, dan pabrik pengolah makanan. Pertanian Afghanistan hancur. Antara kurun waktu penarikan pasukan U.S.S.R. pada 1989 dan kebangkitan Taliban pada 1994, negara itu terpuruk dalam kekacauan karena para pemimpin perang gadungan saling bersaing memperebutkan kekuasaan. Para petani Afghanistan, yang berjuang untuk memperoleh kembali posisi mereka di pasar, mendapati bahwa India dan Pakistan telah mengembangkan produk sendiri dan tidak lagi tertarik untuk mengimpornya dari Afghanistan. Kedua negara itu berhasil menghentikan produksi opium di dalam negeri dan para penyelundup narkoba mulai membidik kawasan baru yang tidak stabil, tempat tumbuh suburnya perdagangan gelap.

Pebisnis narkoba dari Pakistan bermunculan di Nangarhar, kemudian Badakhshan, lalu bagian selatan Provinsi Helmand. Sebagaimana yang dijelaskan oleh konsultan pertanian Jonathan Greenham tentang kajiannya di Pakistan untuk membasmi produksi opium, “Para penguasa Pakistan hanya mengalihkan masalah dengan melintasi garis perbatasan.”

Inilah antara lain alasan mengapa pangsa produksi opium Afghanistan meroket dari 19 persen pada 1986 menjadi 90 persen dua dasawarsa kemudian. Namun, faktor paling berpengaruh adalah Taliban. Ketika mulai menguasai Afghanistan pada 1996, pemerintah Islam baru ini menggalang dukungan dari para pemimpin suku dengan menyetujui untuk tidak mengganggu pembudidayaan opium. Pemimpin besarnya, Mullah Omar, menerima dana secara teratur dari kelompok organisasi penyelundup opium, yang diizinkannya beroperasi dengan bebas. Pada waktu yang bersamaan, pemerintah Afghanistan yang baru mengenakan 10 persen pajak terhadap semua keuntungan dari pertanian. Pada 1999 produksi opium Afghanistan melesat ke angka lebih dari 5.000 ton, dan ini memunculkan tekanan dari UNODC agar dilakukan upaya gencar untuk melarang penanamannya.

Pada Juli 2000 Mullah Omar menerbitkan fatwa yang mengumumkan bahwa produksi opium melanggar ketentuan Islam. Taliban menegakkan larangan itu dengan cara kejam, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang mantan petani opium kepada saya, “dengan mengancam akan membakar rumah kami.” Hasilnya sangat mengesankan, yakni menurunnya penanaman opium sebanyak 91 persen dalam waktu satu tahun.

Setelah penyerbuan yang dipimpin AS ke Afghanistan dan kejatuhan Taliban pada 2001, para pemimpin perang gadungan di tingkat wilayah sekali lagi mendongkrak produksi opium. Karena sudah tidak lagi berkuasa, sekarang Taliban melihat opium sebagai cara untuk membiayai pemberontakan mereka. “Mereka melihat ada peluang untuk menghasilkan pendapatan yang sangat besar tanpa mengorbankan kehidupan rakyat,” kata Wes Harris dari Departemen Pertanian AS, opium adalah tanaman musim dingin, sehingga setelah dipanen di akhir musim semi, petani dapat menanam jagung, kapas, atau kacang-kacangan di lahan yang sama. Pada tahun-tahun ketika permintaan tinggi, seorang petani dapat berpenghasilan enam kali lipat dari opium daripada hasil bumi lainnya. Ketika harga opium turun, petani cukup membungkus produk yang tahan lama itu dalam plastik dan menyimpannya sampai pasar lebih menguntungkan.

Tatkala Taliban menguasai bagian selatan Afghanistan selama beberapa tahun terakhir, menanam opium menjadi jauh lebih mudah. Para pedagang narkoba memberikan uang muka kepada petani untuk biaya panen, kemudian datang pada waktunya untuk mengambil barangnya. Mafia narkoba memastikan jalur ke laboratorium pengolahan heroin di daerah perbatasan dan kemudian keluar dari Afghanistan terjaga dengan aman dan para petugas yang tepat sudah disuap karena, seperti yang dikatakan salah seorang veteran penegak hukum Afghanistan, “Afghanistan dikuasai oleh mafia narkoba. Bagaimana bisa para pejabat pemerintah bergaji kecil itu mampu membeli rumah mewah di Dubai dan AS dalam beberapa tahun terakhir ini?”

NATO memperkirakan para pemberontak mendapatkan separuh dana mereka dari narkoba, hampir setengah miliar dolar. Namun, mengingat perekonomian Afghanistan dari opium berjumlah hingga empat miliar dolar setahun, Taliban hanya menguasai sebagian kecil saja dari dana yang sangat besar itu.

Keputusan berat masih ditunggu para petani opium: Opium itu haram, sebagaimana difatwakan oleh Taliban ketika untuk sementara waktu mereka menghentikan penanamannya. Ataukah sebenarnya tidak haram? Sebagian mullah Afghanistan menyatakan bahwa haram menggunakan opium, tetapi tidak haram menanamnya. Mullah yang lain menyitir Quran yang menyatakan bahwa orang yang kelaparan diperbolehkan makan daging yang haram untuk mempertahankan hidupnya. Akan tetapi, pemuka agama Provinsi Badakhshan, Maulawi Abdul Wali Arshad berkata, “Dalam hukum Islam, jika sesuatu dinyatakan haram, maka ketentuan haram itu berlaku dari awal sampai akhir. Jika pembudidayaan opium dinyatakan haram, bagaimana kita bisa mengendalikan penyelundupannya? Atau penggunaannya? Yang dilakukan Taliban itu tidak Islami. Keterlibatan Taliban dengan mafia narkoba menunjukkan bahwa mereka tidak benar-benar menginginkan pemerintahan yang benar-benar Islami. Mereka hanya menginginkan kekuasaan.”

Provinsi Helmand adalah daerah kekuasaan Taliban dan pusat pembudidayaan opium Afghanistan. Inilah tempat yang digunakan Amerika, dalam proyek pengembangan besar-besaran setelah Perang Dunia II, untuk membangun sistem irigasi yang masih berfungsi tetapi, hanya karena petani Afghanistan melakukan perubahan pada saluran itu untuk menembus saluran utama yang tersumbat. Mereka mengalirkan air ke ladang A atau B dengan hanya mendorong tumpukan lumpur ke tepi dengan menggunakan cangkul. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ahli irigasi USAID saat kami menyaksikan air mengalir deras dari sebuah saluran mengairi hamparan lahan yang sangat kering, “Sungguh mengagumkan bukan, melihat sistem pengairan ini, padahal boleh dikatakan kita seperti berada di abad ke-13?”

Cukup banyak kiat cerdik di bidang pertanian yang dimanfaatkan di sini. Di Marjah, tempat tibanya Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pada Februari 2010, pertama-tama untuk melucuti Taliban dan kemudian untuk meyakinkan penduduk setempat, pasukan marinir AS yang menyigi ladang opium Marjah memandang dengan kagum ke arah lahan gurun yang warnanya begitu semarak. Banyak di antara para pemuda itu berasal dari masyarakat petani dan mau tak mau mengagumi keterampilan para petani Helmand. Wes Harris sangat terkesan menyaksikan betapa para petani itu mampu menanam kedelai dan kapas secara berdampingan dan menata tanaman anggur berumpak-umpak menuruni tanggul gurun “memanfaatkan sepenuhnya setiap jengkal lahan.”

Mengingat Provinsi Helmand di Marjah adalah sumber yang menghasilkan 54 persen opium Afghanistan, pesan dalam kampanye tahun lalu sangat jelas bagi semua pihak. Yang sangat tidak jelas adalah apakah kampanye itu berhasil. Karena menyadari bahwa pemusnahan paksa di masa lalu menyebabkan para petani terkucil sehingga mereka berpaling kepada Taliban, Marinir AS mengumumkan pada musim semi yang lalu bahwa mereka akan membayar petani untuk memusnahkan ladangnya sendiri Rp3 juta untuk setiap acre ladang yang dimusnahkan. Sejumlah besar petani langsung menolak tawaran ini. Banyak di antara petani yang menerima tawaran ini gagal memenuhi tenggat pemusnahan yang ditetapkan selama tujuh hari. Dengan niat baik, tenggat ini diperpanjang memberikan waktu yang cukup kepada petani untuk memanen dulu opium, lalu menerima bayaran dari ISAF. (“Apakah para petani itu hanya menyerahkan sebagian opium mereka dan menyembunyikan sisanya? Mungkin saja,” begitu pengakuan salah seorang anggota marinir.) Namun, keberuntungan berpihak kepada Marinir: 2010 merupakan musim tanam yang buruk bagi petani opium Helmand karena bunga es, musim kemarau, penyakit, dan serangga memangkas hasil panen hingga setengahnya.

Di Camp Henson, pos pasukan Marinir di Marjah, 200 ton pupuk dan kemasan benih menumpuk di samping beberapa truk yang baru saja mengirimkankannya. Kaca depan salah satu truk pecah, dan empat dari pengemudi iring-iringan truk dari ibukota Helmand, Lashkar Gah, sekarang berada di rumah sakit, setelah kena tembakan dalam serangan yang dilancarkan Taliban. Benih tersebut—kacang panjang, lobak merah, alfalfa (Medicago sativa), semangka, jagung akan dijual kepada seribu petani di kawasan itu dengan harapan mereka berhenti menanam opium.

Keesokan harinya, puluhan petani datang untuk mengambil insentif terakhir. Datang ke pangkalan Marinir saja sudah merupakan risiko yang membuat gentar banyak petani lain yang memutuskan untuk tidak datang. Taliban mendirikan pos pemeriksaan dan menyita barang bawaan baru itu dari para petani yang lewat. Konon seorang anak lelaki dipaksa menelan kartu pendaftaran yang diterbitkan ISAF. Seorang tetua suku yang diketahui membantu Marinir “dipukuli sampai babak belur,” menurut seorang juru bahasa militer. Bagi kebanyakan warga Afghanistan, Taliban sosok kejam yang sudah mereka kenal dan, yang lebih pasti, sosok kejam yang sangat mungkin akan tetap berada di situ setelah pasukan ISAF pergi.

“Para petani ini bermuka dua dan berpihak kepada yang sedang berkuasa,” kata John Hurrell dari Rift Valley Agriculture, LSM yang mengelola pembagian benih dan pupuk. “Tanaman apa pun yang memberikan hasil terbaik, itulah yang mereka tanam. Menurut pendapat pribadiku, mereka menjual pupuk dan benih itu dan kembali menanam opium.” Salah seorang petani yang kudapati keluar dari markas Marinir sambil membawa sekantong benih masih belum memutuskan. “Tergantung pada keputusan pemerintah daerah setelah pasukan militer itu pergi,” katanya. “Kalau diizinkan, saya akan menanam opium.”

“Ada dua jenis uang di sini: opium, dan dolar AS,” kata seorang petani Helmand tak berjanggut yang bernama Rehmatou saat dia meninggalkan pangkalan Marinir sambil membawa pupuk. “Ini perekonomian kami. Taliban tidak menekan saya, itu hanya cerita yang ditayangkan TV saja. Saya menanamnya untuk diri sendiri. Saya menyelundupkannya untuk diri sendiri. Bukan karena Taliban. Kemiskinanlah penyebabnya. Dan kami akan terus menanam opium di sini kecuali jika dipaksa berhenti. Kekuatan adalah solusi untuk segala hal. Sebagaimana kata orang Pashtu, “Kekuasaan bisa meratakan gunung.”

“Siapa yang akan menghentikan para penyelundup itu?” tanyanya sambil tertawa. “Justru polisilah yang mengangkut opium kami dalam mobilnya! Anda lihat gedung-gedung besar di Lashkar Gah dan Kandahar? Itu uang hasil korupsi.” Rehmatou tidak menunjukkan dukungan bagi Taliban tetapi, sistem yang diberlakukan oleh Taliban bisa diterimanya. Sikap sinisnya yang mencengangkan itu pudar ketika saya bertanya, “Apakah  perekonomian yang mengandalkan opium benar-benar buruk bagi Afghanistan?”

“Ini cara yang buruk untuk mendapatkan uang,” kata Rehmatou dengan sungguh-sungguh. “Membuat kami tidak terlatih untuk bekerja di bidang lain. Apabila seorang ayah memberi makan anaknya dengan uang dari opium, si anak akan menanam opium juga. Dia tidak punya keterampilan lain. Tidak ada yang bisa menjadi tukang kayu, teknisi, montir. Kami tidak punya keterampilan apa-apa.”

Dengan senyum pilu si petani berkata, “Ibarat kanker yang menggerogoti negeri kami.”

Apakah mungkin kanker itu disingkirkan? Provinsi Nangarhar yang berbatasan dengan Pakistan di timur, yang sudah lama menjadi rute penyelundupan narkoba, dan pegunungannya luas mencakup Celah Khyber dan kompleks perguaan Tora Bora terkenal karena hukum rimbanya. Dengan iklim Mediteranianya, Nangarhar pernah menjadi penghasil opium terbesar di Afghanistan sampai 2004. Pemusnahan paksa mulai dilakukan pada 2005, namun janji pemerintah untuk menyediakan mata pencaharian lain tidak dipenuhi pada awalnya, dan bahkan ibukota provinsi Jalalabad masih tetap terbelakang dan sepi.

Sekarang, kota itu dan lingkungannya menampilkan kisah sukses tanpa bergantung pada opium. Daerah pedesaan subur, yang sejak lama dipandang sebagai pemasok pangan Afghanistan, disemarakkan oleh kubis merah dan tomat. Jalanan Jalalabad sekarang termasuk jalanan paling hidup di Afghanistan, dan di pasarnya yang ramai, ratusan truk tiba setiap pagi, membawa puluhan jenis hasil bumi seperti semangka, kentang, squash, okra, dan bawang Bombay. Tidak satu pun dari hasil bumi itu yang bisa bersaing dengan opium yang jauh lebih menguntungkan, dan seorang petani kentang yang saya temui di pasar berkata bahwa dia bekerja di malam hari sebagai satpam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Tetapi, saya tidak menyesal, saya senang tidak menanam opium lagi,” katanya.

Di desa Yaghi Band, yang dulu boleh dikatakan hanya menanam opium, sekelompok tetua suku mengenang kembali masa pasca-opium di Nangarhar di dalam ruangan yang menghadap ke sawah, ladang kapas, brokoli, dan tanaman lain. “Kehidupan memang tidak sebaik lima tahun silam,” ujar salah seorang di antara mereka. “Tetapi, sekitar 60 persen dari yang pernah kami hasilkan. Dan kami penuh harapan pada proyek baru.” Di antara berbagai proyek itu terdapat proyek yang terletak tepat di bawah kami: pabrik tekstil yang digerakkan oleh pembangkit tenaga air, yang didirikan oleh perusahaan yang disubkontrak oleh USAID. Kontribusi untuk provinsi tersebut yang berasal dari berbagai program seperti ini tampaknya sangat berlimpah.

Di antara yang saya kunjungi adalah bendungan dan saluran irigasi baru, jembatan baru, koperasi anyaman untuk kaum perempuan, pabrik keripik kentang, pabrik pengolah madu, pabrik selai, dan pasar induk kota, yang wakil direkturnya, Khwaja Mohammed, memuji peranan LSM, tetapi kemudian menambahkan, “Afghanistan masih dalam suasana perang. Kami masih belum mampu berdikari. Jika suatu negara berperang selama 30 tahun, mungkin perlu waktu 80 tahun untuk membangunnya kembali. Jika petani tidak terus mendapatkan bantuan, jangan harap mereka tidak menanam opium.

 

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Kepala polisi itu memiliki cara yang mengesankan untuk menunjukkan bahwa dia tidak gentar menghadapi para penyelundup narkoba. Dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan bahwa dia sudah tidak punya jari tengah. Empat tahun silam, Brigjen Aqa Noor Kintuz menjabat sebagai kepala polisi Provinsi Badakhashan di timur laut Afghanistan dan ditugasi memusnahkan ladang opium yang jumlahnya banyak sekali. “Setelah menyelesaikan salah satu prakarsa pemusnahan pertama,” katanya, “kendaraan saya diledakkan oleh bom jarak jauh.” Digulungnya lengan kemeja kanannya. Lengan bawahnya cacat parah. Bertahun-tahun sejak kejadian itu, dia sering sekali menerima ancaman pembunuhan. Kaum wanita dan anak-anak petani opium melontarkan batu kepada anak buahnya. Salah satu traktornya untuk memusnahkan ladang opium dibakar.

Realitas suram yang menyelimuti Afghanistan dewasa ini, yang 85 persen warganya petani, adalah bahwa perekonomiannya digerakkan oleh dua sumber yang saling bertentangan. Dana pertama mengalir dari sumber di dunia Barat, dengan harapan negara itu menyingkirkan Taliban. Dana lainnya berasal dari perdagangan opium yang didukung oleh Taliban, yang menggunakan keuntungannya untuk membiayai serangan terhadap pasukan Barat. Baru belakangan inilah pemerintah Afghanistan tampaknya menyadari situasi nyata yang dihadapinya: Agar bantuan dari luar terus mengalir, ketergantungan perekonomian negara pada opium harus diakhiri. Ladang opium harus dimusnahkan. Namun, sebagaimana halnya negara Muslim yang taat ini tidak begitu saja menjadi pemasok terbesar opium di dunia, mencerabut pola pikir Afghanistan dalam hal opium pun bukanlah tugas sederhana.

Di Badakhshan, kepala polisi Kintuz tampaknya memperoleh kemajuan dalam upayanya memusnahkan opium. Lima tahun silam, provinsi itu penghasil opium terbesar kedua di Afghanistan, setelah provinsi Helmand yang berada di bawah kekuasaan Taliban. Untuk kurun waktu yang singkat setelah Taliban melarang petani menanam opium pada 2000, Badakhshan bahkan memimpin dalam pembudidayaan opium, karena provinsi itu dikuasai milisia Aliansi Utara, bukan Taliban. Ketika Kintuz mengawali tugasnya pada 2007, sekitar 3.650 hektare lahan ditanami opium. Dua tahun kemudian, yang tersisa kurang dari 600 hektare.

Upaya pemusnahan memaksa petani opium pindah ke daerah pedesaan terpencil. Ladang mereka, secara disengaja, boleh dikatakan tidak terlihat. Untuk menemukannya, kita harus berkendara selama berjam-jam melalui jalan pegunungan tersembunyi yang sudah rusak, ditemani orang yang mengenal wilayah itu dan, jika perlu, menjelaskan alasan kehadiran kita di situ. Kita harus mencari di tempat yang jauh dari tepi jalan, memandangi daerah pedesaan yang tanahnya bergelombang di kawasan Afghanistan utara—mengamati tumbuhan berwarna seragam, mencari semburat warna yang berbeda, yang tampak seperti tumbuhan yang lugu dan sekaligus sarat dosa, yang akhirnya menyerukan tanda yang amat jelas: ladang opium.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: